Kolaborasi ITB dan DLH se-Bandung Raya: Rumuskan Strategi Menuju Kampus Bebas Sampah

BANDUNG, 5 November 2025 - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil langkah strategis dalam komitmennya menuju kampus bebas sampah (zero waste) dengan menyelenggarakan "Workshop Pengelolaan Persampahan Kampus ITB Menuju Zero Waste" pada Rabu, 5 November 2025 lalu.

Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan ITB ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D.

Dalam sambutannya, Prof. Lavi menegaskan bahwa isu persampahan telah menjadi isu nasional. Ia menyebut bahwa Rektor ITB telah membentuk kelompok multidisiplin—melibatkan pakar dari FTSL, FTMD, SIT, hingga FSRD—untuk mencari solusi konkret. "ITB memiliki tanggung jawab moral maupun intelektual untuk memberikan contoh pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujar Prof. Lavi, menekankan bahwa workshop ini harus menghasilkan "langkah konkret" bukan sekadar diskusi.

Workshop ini dirancang sebagai forum kolaboratif yang turut mengundang para pemangku kepentingan regional, termasuk perwakilan dari:

  • Perwakilan DLH Provinsi Jawa Barat beserta DLH Kota/Kabupaten di wilayah Bandung Raya
  • BAPPELITBANG Kota Bandung
  • PT LAPI Ganesha Utama

Prof. Ir. Edwan Kardena, Ph.D., yang memoderatori diskusi panel, memaparkan urgensi masalah. "Bandung saat ini dalam krisis sampah, Sari Mukti sudah tidak bisa menampung," tegasnya. Ia menyatakan bahwa ITB sebagai "gudangnya teknologi" harus berhenti dipandang "Omdo aja nih" (Omong Doang) dan mulai menyelesaikan sampahnya sendiri, seraya menjadi "etalase teknologi" yang bisa ditiru oleh masyarakat.

Diskusi panel menghadirkan enam pakar ITB yang membedah masalah dari berbagai sisi:

  • Prof. Ir. Emenda Sembiring (FTSL) memaparkan Master Plan Pengelolaan Sampah ITB. Ia mengungkap data bahwa timbulan sampah kampus Ganesa bisa mencapai 2 ton/hari (uniknya, 37% adalah sampah taman) dan Jatinangor 3 ton/hari (didominasi sisa makanan asrama). Solusi awalnya adalah menyederhanakan sistem pemilahan dari 5 tempat sampah yang membingungkan menjadi "maksimum tiga," sesuai hasil survei sivitas akademika. Targetnya, dalam 10 tahun, "tidak ada lagi sampah dari kampus ITB yang diangkut ke TPA."
  • Ir. Joko Nugroho, Ph.D. (Direktorat SPSI) menjelaskan kondisi sarana dan prasarana existing. Dari total 560 ton sampah kampus per tahun (data 2024), sebanyak 406 ton masih berstatus "residu" yang dibuang ke TPA.
  • Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra (SITH), yang dijuluki "Profesor Magot", menawarkan solusi biologis. Untuk "food waste" di Jatinangor, Black Soldier Fly (BSF) sangat efektif. Namun untuk "sampah taman" yang mendominasi di Ganesa, pendekatan terbaik adalah "komposting" dan "cacing tanah". Ia juga berkelakar bahwa "tong sampah terbaik di dunia" adalah ayam, meski terkendala regulasi perkotaan.
  • Dr.Eng. Ir. Pandji Prawisudha (FTMD) fokus pada penanganan residu akhir yang mencapai 1,3 ton/hari. Ia memaparkan rencana teknologi termal, termasuk waste gasifier yang sedang dikembangkan untuk menghasilkan listrik bagi armada kendaraan pengangkut sampah internal kampus. Ia juga mengonfirmasi bahwa sebuah "insinerator" yang dilengkapi Elektrostatic Precipitator (ESP) untuk emisi bersih sedang dibangun dan akan disumbangkan oleh PT LAPI Ganesha Utama. Teknologi ini ditargetkan mampu mengurangi residu akhir hingga hanya 150 kg per hari.
  • Dr. Ir. Haryo Satriyo Tomo (FTSL) membahas tantangan dari teknologi termal, yaitu pengendalian gas buang (flue gas). Ia fokus pada mitigasi senyawa berbahaya seperti "dioksinfuran" yang terbentuk "pasca pembakaran" saat gas mendingin, untuk memastikan teknologi yang diterapkan aman bagi lingkungan.
  • R. Raditya Ardianto Taepoer, Ph.D. (FSRD) menutup panel dengan perspektif humaniora. Menurutnya, teknologi secanggih apapun akan gagal tanpa mengubah perilaku 27.000 mahasiswa. Ia menekankan perlunya "merancang bersama" (co-design) sistem kampanye dan signage yang efektif untuk membangun "budaya kepedulian," bukan hanya "budaya kebersihan."

Workshop ini ditutup dengan kesimpulan yang menggarisbawahi sinergi antara teknologi dan manusia. ITB memiliki peta jalan yang jelas dan terus berupaya untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah, namun hal tersebut juga perlu didukung dengan perubahan perilaku dan partisipasi aktif seluruh sivitas akademika. Keberhasilan inisiatif zero waste ini mutlak bergantung pada komitmen bersama untuk memilah sampah mulai dari sumbernya.